Jumat, 12 Februari 2010
MENGEMIS, KOG ENAK !
Mas, tahu ndak yang sering nungguin kita habis kajian itu ternyata bukan orang miskin lho. Di daerahnya punya sawah,rumah dan hidup kecukupan.Konon sehari bisa 50rb bersih. Dan sip-nya lagi mereka punya koordinator yang menjaga dan siap mengkoordinir grup yang seperti ini, jadi tidak perlu takut bermaratonan dengan bp/ibu satpol pp.
Terlepas benar tidak nya informasi itu membuat hatiku jadi berpikir dan sedikit ‘panas’. Diriku saja yang kerja seharian kesana-kemari dari pagi sampai petang rata-rata dapat 15ribu. Terkadang kurang dari itu. Rumahpun tak punya apalagi sawah dan kendaraan pula. Menjadi ’sedikit’ meng-andaikan..bagaimana kalo saya banting setir saja ya ..ganti kostum, ikut kumpulannya dan sedikit belajar acting. Wah dapet duit mengalir hanya dengan pura-pura mengharap belas kasihan..
He3..nggak mungkinlah!..money oriented banget seh otakku ini..aku masih ingin dicatat sebagai manusia yang berusaha jujur,bermartabat, kerja keras dan satu lagi..bermanfaat bagi orang lain (خَيْرُالنَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ)..amiin :D
Subhanallah pas sekali temanya dengan yang catatan2 kajian yang hari ini ku buka.
Sebagai orang yang mengaku beriman, kita harus memiliki etos dan kemampuan berusaha dengan cara yang halal, bukan menghalalkan segala cara sehingga martabat atau harga diri tetap bisa dipertahankan. Termasuk mengemispun tidak boleh dilakukan, Rasulullah saw bersabda:
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: وَ الَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ َلاَنْ يَأْخُذَ اَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَحْتَطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ اَنْ يَأْتِىَ رَجُلاً فَيَسْأَلَهُ اَعْطَاَهُ اَوْ مَنَعَهُ. البخارى
“Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh seseorang diantara kalian mengambil tali, lalu mencari kayu bakar dan membawanya di atas punggungnya adalah lebih baik baginya daripada ia datang kepada seseorang untuk minta-minta, baik orang itu memberinya maupun tidak memberinya“. [HR. Bukhari juz 2, hal. 129]
Oleh karena itu, mencari nafkah secara halal merupakan sesuatu yang sangat mulia yang memang harus dilakukan oleh seorang muslim. Kemudian jangan lupa dan menunda menunaikan kewajian (zakat/infaq) atas rizki yang didapat. Dan tetaplah memegang prinsip hemat efektif/tidak boros tetapi juga bukan pelit.
Demi menjaga kemandirian dan menghindari tergantung dengan orang lain, maka berusahalah untuk bisa menabung sebagai bentuk persiapan di masa mendatang dan di masa-masa sulit darurat. Ini merupakan sesuatu yang sangat baik sehingga Allah swt akan merahmati orang yang demikian, Rasulullah saw bersabda:
رَحِمَ اللهُ امْرَأً اِكْتَسَبَ طَيِّبًا وَأَنْفَقَ قَصْدًا وَقَدَّمَ فَضْلاً لِيَوْمِ فَقْرِهِ وَحَاجَتِهِ.
“Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan uang secara sederhana dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya” (HR. Muslim dan Ahmad).
Seorang pengemis pastilah berbeda dengan orang biasa yang sekedar meminta bantuan. Terutama dari segi motivasi dan cara kerja. Oh pengemis…sosok yang tak asing lagi kusaksikan tiap hari, dari bayi sampai tua renta…bahkan dari yang lemah sampai yang segar bugar…hanya pakaian saja yang memperjelas profesi mereka. Ada apakah dengan mereka?
Dalam sebuah hadist diceritakan Rasulullah SAW pernah bersabda, “Yang demikian itu lebih baik bagimu daripada kamu datang meminta-minta, karena meminta-minta itu akan membekaskan noda di wajahmu pada hari qiyamat. Sesungguhnya minta-minta itu tidak pantas dilakukan kecuali oleh tiga golongan, yaitu orang yang sangat faqir, atau orang yang terbeban hutang, atau orang yang harus membayar diyat (tebusan) yang sangat memberatkan“. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 120, no. 1641].
اِنَّ مِنَ الذُّنُوْبِ ذُنُوْبًا لاَ يُكَفّرُهَا الصَّلاَةُ وَ لاَ الصَّدَقَةُ وَ لاَ اْلحَجُّ، وَ يُكَفّرُهَا اْلهَمُّ فِى طَلَبِ اْلمَعِيْشَةِ. ابن بباويه و الطبرانى
“Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu ada dosa-dosa yang tidak bisa terhapus oleh shalat, sedeqah dan hajji. Tetapi bisa terhapus oleh lelahnya seseorang dalam mencari ma‘isyah“. [HR. Ibnu Babawaih dan Thabrani]
Sungguh tulisan ini bukan berniat mendiskreditkan para peminta-minta/pengemis, tetapi sebagai bahan pemikiran dengan tetap berpikir positip kepada siapapun. Agar diri ini makin bersemangat dalam bekerja keras demi melancarkan jalan menuju akherat dan hidup layak di bumi yang sebentar ini.
Yen kerjo ojo mau model ‘bakmi’ ….
Bakmi = Bosenan, ….., malas dan isinan
Referensi :
- Brosur MTA Ahad, 20 April 2008 : Rasulullah SAW suri teladan yang baik (ke-46), Keutamaan Bekerja
Selasa, 12 Mei 2009
MEMBANGGAKAN GOLONGAN
“…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada pada golongan mereka.”
Dari ayat diatas bisa di ambil pelajaran:
Jangan menjadi orang musyrik, yaitu : memecah belah agama Allah menjadi beberapa golongan dan merasa bangga dengan golongannya.
Orang seperti ini akan merasa bangga dengan golongannya, yang biasa berakibat mereka merasa paling benar, paling baik, dan cenderung merendahkan golongan lain. Mereka tidak lagi bangga dengan agama Islam.
Senin, 30 Maret 2009
KEMBALI DARI KESALAHAN
Orang-orang beriman apabila berbuat salah, lalu menyadari kesalahan itu, ia akan segera berhenti dari perbuatan itu dan bertaubat. Jadi orang yang beriman bukanlah berarti mereka yang terlepas dari kesalahan, akan tetapi mereka yang apabila diperingatkan dari perbuatan salahnya ia akan segera kembali kepada Allah.
QS As-Sajdah : 15
“Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami) , mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri.”
Kamis, 19 Maret 2009
ETIKA BERBICARA
Allah berfirman yang artinya:
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia".(An-Nisa: 114).
Hendaknya pembicaran dengan suara yang dapat didengar, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu rendah, ungkapannya jelas dapat difahami oleh semua orang dan tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksakan.
Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu.
Hadits Rasulullah menyatakan: "Termasuk kebaikan islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna".(HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar.
Abu Hurairah di dalam hadisnya menuturkan: Rasulullah telah bersabda: "Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar". (HR. Muslim)
Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekali-pun kamu berada di fihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda.
Rasulullah bersabda:
"Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari bertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda".(HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa. Aisyah Radhiallaahu 'anha telah menuturkan: "Sesungguhnya Nabi apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya".(Mutta-faq'alaih).
Menghindari sikap memaksakan diri dan banyak bicara di dalam berbicara.
Di dalam hadits Jabir disebutkan:
"Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun". Para shahabat bertanya: "Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun?"Nabi menjawab: "Orang-orang yang sombong".(HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).
Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba.
Allah berfirman yang artinya:
"Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain".(Al-Hujurat: 12).
Mendengarkan pembicaraan orang lain dengan baik dan tidak memotongnya, juga tidak menampakkan bahwa kamu mengetahui apa yang dibicarakannya, tidak menganggap rendah pendapatnya atau mendustakannya.
Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Menghindari perkataan kasar, keras dan ucapan yang menyakitkan perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan. Menghindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berbicara.
Allah berfirman yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokan), dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokan)". (Al-Hujurat: 11).
Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia
secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun
Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu
hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah
SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu
Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah),
sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah
nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur
sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang
diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan
Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW
yaitu : "Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit
dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan
memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan
kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus
bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih
besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga
yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam
keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan
anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila
memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk
mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula
seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang
luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan
suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki
seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang
anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah
SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak
muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu
yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah
melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat,
ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu
menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah
aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua
?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah
ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku
ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari
hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata
tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun
minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa
anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah.
Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh
mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib
kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap
keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita
untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang
sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila
kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia
karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya
wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang
yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu
dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi
halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah
bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu
berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan
pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya
dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena
doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan
menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan
kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah
orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu
agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk
belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan
ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu,
semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi
cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi
cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” kan
hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya
nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh
semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh,
yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi
hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi
dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun
cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu
pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya,
maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia
sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan
yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak
mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua
semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya
diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa
takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk
segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang
dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah
umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator
kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki
diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’
mungkin membaca doa ‘sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca
oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina
fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku
kebahagiaan dunia ”), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada
Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas
ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang
soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal,
semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam
genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja
sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil
aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk
memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu
bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah
sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal
soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari
puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk
surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita
tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya
bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat
Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).
(Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang,
disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana, sedikit diedit oleh
Penjaga Kebun Hikmah)
__._,_.___
Selasa, 03 Februari 2009
menghina agama?
Menghina Allah, Rasul-Nya, ayat-ayat-Nya, syariat-Nya dan hukum-hukum (agama)-Nya merupakan perbuatan kufur, sesuai dengan firman Allah SWT: "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan main-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"{QS.At Taubah: 65}
Termasuk di dalam hal ini, menghina tauhid, shalat, zakat, puasa, haji, atau hukum-hukum agama lainnya.
Mari kita introspeksi diri, sudahkah kita terhindar dari hal ini? Atau sebaliknya, tanpa sadar atau dengan sadar kita menjadi salah satu dari mereka.
Kita berlindung kepada Allah SWT, hanya Dia lah yang bisa membebaskan kita dari segala kejelekan.
Senin, 02 Februari 2009
sebarkan ilmu
Firman Allah "Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang diberi kitab (yaitu), hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan janganlah kamu menyembunyikannya."{QS Ali Imran: 187}.
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Alkitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati."{QS Al Baqarah:159}
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menunjukkan kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya."(HR.Muslim)
beliau SAW juga bersabda, "Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, niscaya ia akan memperoleh pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun."(HR.Muslim).
Dari Mu'awiyah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda,"Bila Allah ingin memberikan kebaikan kepada seseorang, niscaya Allah akan memberinya kefahaman tentang urusan agamanya."(HR.Bukhari Muslim).
Dan masih banyak ayat dan hadist yang mengandung seruan dan anjuran untuk menyebarkan ilmu, dan peringatan keras bagi orang yang berpaling dan menyembunyikannya.
Wahai orang-orang yang berilmu, sebarkanlah ilmu yang anda miliki, karena tak kan habis ilmu bila dibagi.
Selasa, 27 Januari 2009
ketentraman hati
ayat diatas merupakan ketetapan dari Allah SWT (sunnatullah), dan apa yang ditetapkan oleh Allah pasti benar adanya, tidak mungkin keliru.
Sunnatullah tidak akan berubah. Ambil contoh, saat kita merasa lapar apa yang kita lakukan untuk menghilangkan rasa lapar itu? Kita makan? Ya tentu saja, itulah sunnatullah. Bagaimana kalau kita melakukan hal yang lain? Apakah bisa menghilangkan rasa lapar? Tentu saja tidak. Sekali lagi, sunnatullah tidak akan berubah.
Begitu juga kalau kita mencari ketentraman, ketenangan hati. Hanya satu jalannya, yaitu dengan mengingat Allah.
Bagaimana kalau kita mencari ketenangan dengan cara lain? Mencari harta yang banyak, mencari kedudukan yang terhormat, mencari popularitas? Bukankah semua itu menyenangkan? Bukankah hati kita merasa terhibur? Mungkin ya, mungkin tidak. Bukankah kita sering mendengar mereka yang dari luar sepertinya sempurna, tiba-tiba jatuh karena satu hal yang memalukan.
Satu hal pasti, tanpa mengingat Allah ketentraman dan ketenangan hati tidak akan datang kepada kita. Ingat, sunnatullah tak kan berubah.
Selasa, 20 Januari 2009
tuntunan Islam membawa kebaikan
Hikmah dari ajaran Islam itu adakalanya dijelaskan dengan tegas oleh Allah atau Rasul-Nya, ada pula yang tidak dijelaskan, tetapi sebagai muslim kita meyakininya bahwa semua yang datangnya dari Allah dan Rasul-Nya itu pasti baik.
Sebagai contoh. Nabi menuntunkan kepada kita, bila ada lalat yang jatuh ke dalam minuman kita. Supaya kita membenamkan lalat tersebut baru kita buang lalatnya dan minumannya tetap kita minum.
Apa kira-kira yang terbayang di kepala kita? Mungkin sekali kita menganggap itu sesuatu yang menjijikkan. Mungkin sekali bila hal itu menimpa kita, kita langsung membuang minuman tersebut. Padahal tuntunan dari Nabi tidaklah demikian. Mungkin juga kita lalu bertanya, kenapa hal seperti itu juga diatur?
Tapi kalau kita mengaku sebagai umat Nabi SAW, kita pasti tetap melaksanakan tuntunan itu meskipun akal kita menolak. Karena kita yakin bahwa apapun yang dituntunkan Nabi SAW pasti berbuah kebaikan.
Kamis, 15 Januari 2009
bagaimana ibadah kita
Ibadah adalah tujuan yang paling diidam-idamkan seorang hamba. Tidak ada predikat yang lebih hebat bagi seorang hamba daripada sebagai ahli ibadah.
Allah berfirman,"Dan AKU tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-KU. "(Adz-Dzariyat:56)
Mereka yang beribadah kepada Allah secara ikhlas disebut ahli ibadah, sementara mereka yang enggan beribadah kepada-NYA, disebut orang-orang yang sombong dan takabur.
Allah berfirman, "Dan kepunyaan-NYAlah segala yang ada di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-NYA, mereka tidak mempunyai rasa angkuh (sombong) untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih." (Al-Anbiya':19)
Rabu, 14 Januari 2009
lebih mengenal Allah
Lalu untuk apa kita lebih mengenal Allah? Salah satunya adalah agar kita mengetahui apa yang seharusnya kita lakukan di dunia ini. Dan agar kita bisa terhindar dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah.
"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu." QS Muhammad : 19
Konsekuensi dari pengakuan kita bahwa tidak ada tuhan selain Allah adalah kita harus taat pada perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
Saat keyakinan kepada Allah kita bawa pada setiap waktu dan tempat, hal ini akan menguatkan tauhid kita dan akan menghindarkan dari kemusyrikan. Selain itu kita akan merasa selalu diawasi oleh Allah, yang sebagai akibatnya kita akan berhati-hati dalam berbuat. Semakin tinggi keyakinan kita, semakin tinggi rasa takut kita kepada Allah.
Senin, 12 Januari 2009
mencari keredhoan
Saat ia menyadari betapa tidak berartinya hidup ini tanpa redho dari Allah, saat itu juga ia menyadari betapa tidak berarti semua kemewahan dunia.
Baginya dunia adalah kesenangan yang sedikit, yang datang dan perginya disikapi dengan tenang. Tidak membuat hatinya resah, gundah, dan khawatir. Karena pada dasarnya nanti semakin banyak dunia yang kita miliki semakin berat pula tanggungjawabnya.
Kamis, 01 Januari 2009
taubat
Saat hamba berbuat dosa, saat itu juga Allah SWT memberi kesempatan untuk bertobat.
Maka dari itu, segeralah bertaubat. Segeralah mencari rahmat dan pengampunan dari Allah SWT.
Jangan sampai kita merasa aman berbuat dosa.
Bila ini terjadi, mungkin sekali saat itulah hati kita telah tertutup, dan sebagai akibatnya siap-siap saja untuk mendapatkan azab dari Allah SWT.
Jumat, 26 Desember 2008
Aqiqah
Dari 'Amr bin Syu'aib dari bapaknya, dari kakeknya berkata, telah bersabda Nabi SAW, "Barangsiapa berkehendak untuk meng aqiqahkan anaknya maka kerjakanlah. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sebanding dan untuk anak perempuan satu ekor kambing".
(HR. Ahmad, Abu Dawud dan Nasai, dalam Nailul Authar 5, hal. 152)
waktu pelaksanaan:
Telah berkata 'Aisyah, "Rasulullah SAW pernah ber aqiqah bagi Hasan dan Husain pada hari ke-7 dari kelahirannya".
(HR. Ibnu Hibban, Hakim dan Baihaqi)
keterangan: Hasan dan Husain adalah cucu Rasulullah SAW.
Adapun aqiqah pada hari selain ke-7, dasarnya adalah lemah.
Senin, 22 Desember 2008
hidup sesuai kehendak
Apa yang dikehendaki Allah sudah tercantum di dalam kitab suci Al-Qur'an, dan di dalam hadist-hadist shahih melalui rasul-Nya.
Ibarat seperangkat mesin, ia mempunyai prosedur pemakaian dan perawatan dari pembuatnya. Saat dia dijalankan dengan baik dan benar sesuai prosedur dan petunjuk pemakaian, maka mesin itu akan menghasilkan kinerja yang optimal.
Begitu juga kita manusia, saat kita hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah sang Pencipta. Hidup kita pasti akan menjadi hidup yang terbaik.
Hidup yang tenang, bahagia dan selamat.
Sabtu, 20 Desember 2008
seperti sahabat
Hidup seperti apa yang sebaiknya kita tiru?
Apakah hidup yang berlimpah harta? Apakah hidup yang berkedudukan tinggi dan terhormat?
Mari kita pelajari bagaimana kehidupan Nabi SAW dan para sahabat. Seperti apa kehidupan mereka, mereka adalah generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi. Generasi yang hidup langsung dibawah bimbingan Nabi SAW.
Kehidupan yang bersahaja, hidup yang sesuai dengan syariat, hidup yang selalu menjaga diri dari apapun yang tidak dikehendaki Allah SWT.
Kalau bukan mereka yang kita tiru, Apakah masih ada yang lebih baik?
Jumat, 19 Desember 2008
merdeka
Hidup yang merdeka adalah saat kita hidup sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia. Hal ini hanya bisa didapat dengan jalan kita hidup sesuai dan berdasar syariat yang telah ditentukan Allah SWT.
Kenapa?
Allah yang menciptakan kita. Allah yang paling tahu tentang diri kita, melebihi dari diri kita sendiri.
Saat kita hidup sesuai dengan aturan Allah SWT dan mengikuti Rasul-Nya, fitrah kita sebagai manusia akan hidup. Inilah hidup yang merdeka.
Kamis, 18 Desember 2008
mengingat Allah
Dulu, saat membaca ayat tersebut, saya sangat ingin mengalaminya. Saya ingin merasa tenang dan tenteram.
Saya sering-sering berdzikir dan melakukan sholat sunnah. Malah bisa dibilang berlebihan.
Tapi.., kenapa saya tidak juga merasakan tenteram. Padahal, tidak mungkin firman Allah keliru. Jadi kesimpulannya, pasti saya yang melakukan kekeliruan.
Sekarang saya sadari, mengingat Allah itu harus dengan hati, dengan sikap redho.
Bukan hanya dibibir dan dikepala saja.
Rabu, 17 Desember 2008
Sabtu, 13 Desember 2008
KESADARAN
Ini kata yang pertama terucap saat aku mendengar tausiah di radio tentang sifat Allah yang Maha Melihat.
Sejak dulu aku tahu bahwa Allah Maha Tahu, dan aku meyakininya. Tapi entah kenapa, kali ini seperti baru pertama aku mendengarnya.
Aku mendengar dengan penuh kesadaran. Berbagai perasaan hinggap di hati. Rasa bahagia, akhirnya Allah berkenan membuka tabir untukku. Rasa takut, apa saja yang selama ini aku lakukan. Berapa banyak alpa dan dosa yang telah ku perbuat. Rasa harap, semoga ini bukti kasih sayang Allah kepadaku. Semoga ini menjadi awal untuk kehidupanku yang lebih baik.
Alhamdulillah.
Jadikan aku hamba-Mu yang senantiasa ingat kepada-Mu.
.jpg)